MAKALAH
Sistem Informasi Eksekutif

Disusun Oleh :
Moh. Sofyan
C 301 13 109
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TADULAKO
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang mana dengan
rahmat dan hidayah Nya sehingga Penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat serta salam semoga tercurahkan selalu kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW.
Makalah tentang System Informasi Eksekutif ini
penyusun susun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah System Informasi
Manajemen.
Dalam penyusunan makalah ini mengalami banyak berbagai
cobaan baik dari segi biaya, waktu, dana dan tenaga. Tetapi
alhamdulillah makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Dengan
ini penyusun ucapkan terimakasih atas kerja sama kelompoknya dalam
penyusunan Makalah ini.
Dalam makalah ini mungkin terdapat kekurangan yang
tidak sengaja penyusun melakukannya. Oleh karena itu penyusun mohon maklum
dan meminta saran dan kritiknya untuk hasil yang lebih baik lagi.
Palu 14 Desember 2016
Penulis
DAFTAR ISI
JUDUL.................................................................................................................... 1
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Dengan berkembangnya
teknologi informasi, mengubah manusia dalam menyelesaikan semua perkerjaannya.
Tidak hanya dalam perkerjaannya saja tetapi dalam segala aspek kehidupan
manusia, seperti pada saat pencarian informasi, pengambilan
keputusan, membuat penilaian dan perkiraan untuk perencanaan dan
pengendalian atau analisis pribadi dilakukan dengan
mengunakan komputerisasi. Perancangan sistem informasi
memungkinkan pemakai mengakses data dan informasi lingkungan berdasarkan subsistem
fungsional dan menggantikan teknologi atau sistem penyimpanan data-data
konvensional ke dalam bentuk data-data yang dapat disimpan dalam
komputer sehingga meningkatkan efisiensi dalam pencarian data dan
perawatan data. Informasi adalah data yang diolah menjadi bahan yang lebih
berguna dan berarti bagi penerimanya.
Dengan informasi
sebuah lembaga, dalam hal ini perguruan tinggi dapat mengetahui
tingkat produktivitas, kemajuan, dan aktivitas yang terjadi
pada perguruan tinggi tersebut. Oleh sebab itu dalam perguruan
tinggi tersebut diperlukan sebuah sistem informasi yang dapat
mengolah dan merangkum data yang berhubungan dengan akademis dan
kepegawaian.
Sistem
informasi ini disebut Sistem Informasi Eksekutif (SIE). Kebutuhan
informasi akademis dan kepegawaian akan semakin kompleks. SIE harus mampu
menangani, mengolah dan merangkum data dari database SIA dan SIK. SIE juga
perlu memberikan tingkatan pengguna dalam hal akses terhadap data-data
tersebut, tidak semua dapat mengakses data tertentu dan melakukan perubahan
terhadapnya. Sehingga masing-masing pengguna hanya akan memperoleh hak kuasa
terhadap informasi yang diinginkan.
Sistem informasi
manajemen muncul dengan publikasi yang luas pada tahun 1960an. SIM ada yang
memandang sebagai sentral, namun pada prakteknya SIM merupakan perkembangan
atau perluasan dari sistem pelaporan untuk manajer tingkat bawah. Dalam tahun
1970an Sistem penunjang keputusan (DSS) telah memberikan bantuan untuk tugas
pembuatan keputusan spesifik. DSS bisa digunakan oleh personel di organisasi
secara keseluruhan, tapi biasanya hanya digunakan oleh personel di organisasi
secara keseluruhan, tapi biasanya hanya digunakan oleh staff dan manajer
menengah dan bawah.
Karena beberapa
alasan dukungan yang diberikan DSS kepada eksekutif hanyalah sedikit, maka
dalam pengembangannya muncullah Sistem Informasi Eksekutif (EIS) atau Sistem
Penunjang Eksekutif (ESS).
EIS juga merupakan
suatu sistem berbasis komputer yang melayani kebutuhan informasi
top executive. EIS menyediakan akses yang cepat berupa informasi yang tepat
waktu dan langsung mengakses laporan manajemen. EIS sangat user-friendly,
didukung oleh grafik-grafik, dan menyediakan laporan-laporan dengan kemampuan
drill-down.EIS juga mudah dihubungkan dengan layanan informasi on-line dan
elektronik mail[Turban,1996]. “Executive Information System (EIS) is a highly
interactive MIS system providing managers and executive flexible access
toinformation for monitoring operating result and general business conditions
[alter,1996]”. EIS dirancang untuk membantu eksekutif mencari informasi yang
dibutuhkan. Eksekutif dapat memilih format-format secara grafis dan tabular
[Paul Gray,1994]. Mengapa harus EIS. Karena eksekutif memerlukan informasi baik
internal maupun external. Oleh sebab itu EIS lah yang dapat memenuhi kebutuhan
eksekutif ini.
Rumusan
Masalah dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Apa Pengertian System
Informasi Eksekutif itu ?
2.
Bagaimana Sejarah
Sistem Informasi Eksekutif itu ?
3.
Apa
saja Komponen dalam Sistem Informasi Eksekutif itu ?
4.
Apa Konsep Dasar
Sistem Informasi Eksekutif itu ?
5.
Faktor-Faktor apa
saja dalam Penentu Keberhasilan Sistem Informasi Eksekutif ?
6.
Langkah - langkah apa
saja yang dilakukan eksekutif untuk meningkatkan sistem informasi ?
7.
Mengapa EIS di
butuhkan untuk kebutuhan informasi yang up to date ?
8.
Apa
saja Kelebihan dan Kekurangan dar Sistem Informasi Eksekutif (SIE) ?
9.
Contoh beserta alasan
penggunaan SIE pada suatu perusahaan ?
Tujuan
Penulisan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui
Pengertian System Informasi Eksekutif
2.
Untuk
mengetahui Sejarah Sistem Informasi Eksekutif
3.
Untuk
mengetahui Komponen dalam Sistem Informasi Eksekutif
4.
Untuk mengetahui Konsep
Dasar Sistem Informasi Eksekutif itu
5.
Untuk
mengetahui Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Sistem Informasi Eksekutif
6.
Untuk
mengetahui Langkah - langkah eksekutif untuk meningkatkan sistem informasi
7.
Untuk
mengetahui Alasan EIS di butuhkan untuk kebutuhan informasi yang up
to date
8.
Untuk mengetahui
Kelebihan dan Kekurangan Sistem Informasi Eksekutif (SIE)
9.
Untuk mrngetahui
contoh beserta alasan penggunaan SIE pada suatu perusahaan.
BAB II
PEMBAHASAN
Istilah Eksekutif memang diterangkan secara bebas, Eksekutif sering
dikaitkan dengan perencanaan dan jangka panjang dan berorientasi pada
kesejahteraan perusahaan. Jika tidak ada sistem informasi eksekutif dan hanya
ada sistem informasi fungsional, manajer puncak akan menerima semua informasi
dari subsistem - subistem fungsional dan para eksekutif harus menyarikan dan
mensintesiskan data menjadi suatu bentuk yang berarti bagi mereka. Sistem
informasi eksekutif membebaskan eksekutif dari tugas tersebut.
Berikut ini beberapa pandangan tentang apa yang harus dilakukan oleh
Eksekutif :
a.
Menurut Henri Fayol, semua manajer
melakukan fungsi-fungsi manajemen yang sama: merencanakan, mengorganisasikan,
menyusun staff, mengarahkan dan mengendalikan. Perencanaan sangat ditentukan
pada tingkat eksekutif, sedangkan fungsi-fungsi lain oleh tingkat yang lebih
rendah.
b.
Peran-peran manajerial Mintzberg, semua
manajer melakukan semua peran, tetapi orientasinya berbeda untuk tiap
tingkatan. Salah satu peran keputusan adalah negotiator. Salah satu contoh,
seorang manajer puncak berunding dalam menggabungkan usaha (merger), dan
manajer tingkat bawah/rendah berunding tentang tanggal penerimaan dengan
pemasok.
c.
dan jaringan Kotter, menurut Prof. John
P. Kotter dari Harvard para eksekutif mengatasi tantangan pekerjaan mengikuti
strategi tiga tahap: (a) menetapkan agenda - tujuan yang harus dicapai
perusahaan (panjang, mencegah, dan jangka pendek); (b) membangun jaringan
kerjasama diantara orang-orang yang harus menyelesaikan agenda tersebut; (c)
menetapkan lingkungan norma dan nilai yang tepat sehingga anggota jaringan
dapat bekerja mencapai agenda itu.
Sistem informasi eksekutif juga disebut
sebagai sistem pendukung eksekutif. Sistem ini merupakan sistem informasi yang
menyediakan fasilitas yang fleksibel bagi eksekutif dalam mengakses informasi
eksternal dan internal yang berguna untuk mengindentifikasi masalah. Pemakai
yang awam dengan komputer pun tidak sulit mengoperasikannya karena sistem
dilengkapi antarmuka yang sangat memudahkan pemakai untuk
menggunakannya. Sistem Informasi Eksekutif dirancang untuk membantu
eksekutif mencari informasi yang diperlukan pada saat mereka membutuhkannya dan
dalam bentuk apapun yang paling bermanfaat [Pengenalan Sistem Informasi,
Raymond Mcleod, Jr.]. Pemakai SIE dapat melakukan permintaan informasi, memilih
sendiri format grafik, tampilan informasi yang dikehendaki.
Kemampuan drill down yang tersedia pada sistem ini
memungkinkan eksekutif dapat melihat lebih rinci suatu informasi. Drill
down berarti eksekutif dapat memulai dari gambaran sekilas dan kemudian
secara bertahap mengambil informasi yang lebih terinci:
a. Menyediakan akses terhadap seluruh jenis informasi.
b. menyediakan keluwesan pelaporan dan menyediakan perangkat untuk
menganalisis informasi.
c. Membantu eksekutif mengidentifikasi masalah.
Tugas SIE adalah mendokumentasikan
seluruh informasi yang ada, sehingga informasi tersebut dapat dimanfaatkan
sebagai basis informasi dan dapat diakses kapan pun dan dimana pun, maka
diputuskan untuk membuat suatu sistem informasi eksekutif berbasis web dengan
nama sistem informasi eksekutif yang diharapkan mempunyai fitur-fitur untuk
menangani permintaan data dari para jajaran. Sistem Informasi Eksekutif
merupakan implementasi Sistem Informasi Organisasi, yang dapat dibagi menjadi
subsitem berdasarkan cara pengelompokan pemakai didalam organisasi [Sistem
Informasi Manajemen, Raymond Mcleod, Jr.
Sistem Informasi Eksekutif (Executive
Information System) terdapat juga sistem informasi fungsional – satu untuk tiap
area fungsional utama organisasi.Subsistem fungsional adalah sistem informasi
yang disesuaikan bagi kegiatan dalam area ini, dimana terdapat dua subsistem
yaitu sistem informasi akademis dan sistem informasi kepegawaian yang
disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan pemakai atas informasi mengenai area-area
fungsional, mendapatkan publikasi luas di beberapa area dan sedikit kurang
diarea lain.
Model Sistem Informasi Eksekutif
diperlihatkan pada Gambar 3 basis data berisi data dari SIA (sistem informasi
akademis) dan SIK (sistem informasi kepegawaian) yang digunakan eksekutif untuk
mendapatkan informasi dan publikasi yang luas.Perangkat lunak EIS menggunakan
isi basis data untuk menghasilkan tampilan yang telah disusun sebelumnya yang
diturunkan ke workstation eksekutif dan disimpan di
database eksekutif. Eksekutif memasukkan permintaan informasi dan
menerima tampilan.
Dalam model sistem informasi eksekutif
diatas eksekutif melakukan dialog dengan perangkat lunak sistem informasi
eksekutif dengan memasukkan instruksi kedalam sistem melalui menu. Pemilihan
menu dilakukan dengan mouse.
Penggunaan keyboarddikurangi. Informasi dapat ditampilkan dalam
bentuk tabel atau narasi. Istilah yang berkembang dari kegiatan SIE adalah
drill down. Sistem informasi eksekutif memantau seberapa baik organisai
berjalan dalam hal tujuannya dan faktor penentu keberhasilannya. Eksekutif yang
menerima konsep faktor-faktor penentu keberhasilan menggunakan sistem informasi
eksekutif mereka untuk memantau setiap faktor penentu keberhasilan dalam hal
ini adalah instansi pendidikan misalnya kualitas staf pengajar, materi yang
berbobot, fasilitas universitas.
Sistem informasi eksekutif
memvisualisasikan perbandingan kinerja yang dianggarkan dengan kinerja aktual
dengan bentuk multimedia yang menampilkan tabel atau narasi, sehingga eksekutif
dapat mendapatkan informasi yang perlu diperhatikan oleh eksekutif untuk
memutuskan suatu tindakan yang diperlukan. Peran utama dari SIE adalah membuat
sintesis, atau menyarikan data dan informasi bervolume besar untuk
meningkatkan kegunaannya. Pengambilan sari ini disebut pemampatan informasi,
dan menghasilkan suatu gambaran operasi organisasi. Dengan menyatukan komputer
ke dalam sistem informasi mereka, peluang baru akan terbuka bagi
pengambilan dan analisis informasi yang sebelumnya tidak pernah tersedia pada
tingkat eksekutif.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa
Pengertian Sistem Informasi Eksekutif adalah Merupakan suatu sistem yang
menyediakan informasi bagi Eksekutif mengenai kinerja keseluruhan perusahaan,
informasi dapat diambil dengan mudah dan dalam berbagai tingkat rincian dan
memudahkan serta mendukung keterangan dan pembuatan keputusan kebutuhan dari
eksekutif senior dengan menyediakan kemudahan akses terhadap keduanya internal
dan eksternal keterangan relevan untuk bertemu gol strategis dari organisasi.
Ini biasanya dipertimbangkan sebagai satu bentuk dikhususkan dari satu sistem
mendukung keputusan (DSS).
Secara umum, sistem informasi eksekutif dikembangkan seperti mainframe
program berbasis komputer. Tujuannya adalah untuk melindungi sekumpulan data
dan untuk menyediakan kinerja penjualan atau statistik riset pemasaran untuk
membuat keputusan, seperti halnya petugas keuangan, direktur pemasaran, dan
petugas eksekutif pemimpin. Obyektif adalah untuk mengembangkan aplikasi
komputer itu akan menyoroti keterangan untuk memuaskan eksekutif senior
kebutuhan. Secara khas, sebuah EIS menyediakan data hanya perlu untuk mendukung
keputusan level eksekutif dari pada data bagi seluruh perusahaan.Hari ini,
aplikasi dari EIS tidak hanya pada hirarki perusahaan, tetapi juga di komputer
pribadi pada satu daerah jaringan lokal.
EIS sekarang seberangi platform perangkat keras komputer dan
mengintegrasikan keterangan menyimpan pada mainframe, mesin komputer pribadi,
dan minicomputers. Sebagai beberapa perusahaan jasa klien mengadopsi sistem
informasi perusahaan yang terakhir, karyawan dapat mempergunakan komputer
pribadi mereka untuk memperoleh akses ke datan perusahaan dan memutuskan data
yang adalah relevan untuk pembuatan keputusan mereka. Perbuatan pengaturan ini
semua, pengguna mampu untuk menyesuaikan akses mereka ke perusahaan sesuai data
dan menyediakan keterangan relevan terhadap keduanya bagian atas dan tingkat
yang lebih rendah di perusahaan.
Secara umum komponen
dari EIS dapat tergolong seperti :
1. Hardware (Perangkat Keras)
Ketika membicarakan tentang perangkat keras untuk satu lingkungan EIS, kita
harus memfokuskan pada perangkat keras yang dibutuhkan pertemuan eksekutif.
Eksekutif harus diletakkan yang pertama dan kebuthan eksekutif harus
didefinisikan sebelum perangkat keras dapat terpilih. Perangkat keras komputer
dasar diperlukan untuk suatu EIS meliputi empat komponen:
a.
Input Device / alat masukan : Alat ini
mengijinkan eksekutif untuk memasuki, verifikasi, dan perbaharui data dengan
seketika.
b.
Central Processing Unit : Adalah pusat
komponen karena ini dapat mengontrol komponen mesin komputer yang lain.
c.
File Penyimpanan Data : Eksekutif dapat
mempergunakan ini secara terpisah untuk menyimpan keterangan bisnis, dan bagian
ini juga dapat membantu eksekutif mencari keterangan informasi bisnis historis
dengan mudah.
d.
Output Device / alat keluaran :
Eksekutif dapat menggunkan alat ini untuk membaca rekaman visual dan sistem ini
memerlukan dukungan dan hardware komputer yang tidak begitu mahal. Alat ini
juga dapat meningkatkan akses dari keterangan EIS untuk banyak pengguna yang
lain dengan suatu perusahaan.
2. Software (Perangkat Lunak)
Memilih perangkat lunak penting untuk
mendesain satu EIS yang efektif. Oleh sebab itu, komponen perangkat lunak dan
bagaimana cara mengintegrasikan data ke dalam suatu sistem sangatlah penting.
Perangkat lunak dasar yang diperlukan untuk satu EIS meliputi empat komponen:
a. Teks yang mendasari perangkat lunak. Bentuk paling umum dari teks dapat di
dokumentasikan.
b. Database : Database heterogen bercokol pada satu jangkauan spesifik Vendor
dan platform komputer membuka akses eksekutif bagi Eksekutif.
c. Dasar grafis : Grafis dapat mengarahkan volume dari teks dan statistik ke
dalam keterangan visual untuk Eksekutif. Jenis grafis yang khas adalah: bagan
gugus berkala, diagram, peta, grafis gerak, bagan urutan, dan perbandingan
mengorientasi graf (bagan balok).
d. Dasar model : EIS memodelkan data yang mengandung data statistik rutin dan
khusus, keuangan, dan analisa kuantitatif lain.
Para eksekutif membangun EIS atas dasar konsep-konsep manajemen. Ada 3
konsep yang perlu dibahas, yaitu: faktor-faktor penentu keberhasilan (critical
success factors), management by exception, dan model mental. Dengan Penjelasan
sebagai berikut :
a.
Faktor Penentu Keberhasilan (Critical
Success Factor)
Adalah hal-hal (factor) yang menentukan
keberhasilan atau kegagalan segala jenis kegiatan organisasi. Factor-faktor ini
dalam setiap perusahaaan berbeda-beda tergantung dari kegiatan yang dilakukan.
Tahun 1961 D. Donald Daniel dari McKinsey & Company menciptakan
faktor-faktor keberhasilan. Faktor-faktor ini bervariasi dari satu perusahaan
ke perusahaan lain. Untuk industri kendaraan bermotor, CSF (critical success
factors) yang diyakini adalah model, jaringan dealer yang efisien, dan
pengendalian biaya manufaktur yang efisien. Sebagai contoh misalnya sebagai berikut
CSF dari industri asuransi jiwa adalah pengembangan personil manajemen agen,
pengendalian personil administratif, dan inovasi menciptakan produk-produk
asuransi.
b.
Management by Exception (MBE)
Perbandingan antara kinerja yang
direncanakan dengan kinerja actual. Sehingga informasi dapat langsung didapat
dan digunakan untuk menyelesaikan setiap permasalahan seperti perangkat lunak
EIS yang dapat mengidentifikasi perkecualian-perkecualian secara otomatis dan
membuatnya diperhatikan oleh eksekutif.
c.
Model Mental
Peran utama EIS adalah membuat sintesis,
atau menyarikan data dan informasi bervolume besar untuk meningkatkan
kegunaannya. Pengambilan sari ini disebut pemampatan informasi (information
compression) dan menghasilkan suatu gambaran atau model mental dari operasi
perusahaan.
Tahun 1973, P.N. Johnson – Lavid
menciptakan istilah model mental, yakni “memungkinkan perorangan untuk membuat
penilaian dan perkiraan, untuk memahami fenomena, untuk memutuskan tindakan
yang perlu diambil dan untuk mengendalikan pelaksanaannya dan di atas semuanya
untuk mengalami kejadian melalui pengganti (proxy).
Rockart dan Delong
mengidentifikasi 8 faktor penentu keberhasilan EIS, yaitu :
1. Sponsor eksekutif yang mengerti dan berkomitmen, Eksekutif tingkat puncak,
lebih baik CEO karena harus berfungsi sebagai sponsor eksekutif EIS dengan
mendorong penerapannya.
2. Sponsor operasi, kalau sponsor eksekutif sibuk dapat diberikan kepada
eksekutif lebih rendah, misal wakil presiden eksekutif. Sponsor operasi
bekerjasama dengan eksekutif pemakai dan spesialis informasi untuk memastikan
pekerjaan itu terlaksana.
3. Staff jasa informasi yang sesuai, tidak saja mengerti teknologi informasi
tetapi juga mengerti cara eksekutif menggunakan sistem itu.
4. Teknologi informasi yang sesuai H/W dan S/W tidak lebih dan tidak kurang.
5. Manajemen data, data harus selalu mutakhir dengan mengidentifikasi tanggal
dan jam dimasukkan dalam sistem. Juga perlu analisis melalui drill-down dengan
bertanya kepada manajer data atau keduanya.
6. Kaitan yang jelas dengan tujuan bisnis, EIS harus berhasilmemecahkan
masalah-masalah spesifik/untuk memenuhi kebutuhan yang dapat ditangani
teknologi informasi.
7. Manajemen atas : Penolakan organisasi. Jika seorang eksekutif menolak EIS,
perlu upaya untuk mendapatkan dukungan. Untuk itu perlu identifikasi masalah
tersebut, kemudian menerapkan EIS dengan prototyping untuk mengatasi masalah
tersebut.
8. Manajemen atas penyebaran dan evolusi sistem : Jika manajer tingkat atas
mulai menerima informasi dari EIS, maka manajer tingkat bawah menginginkan
informasi yang sama, karena mereka ingin mengantisipasi masalah dan
memecahkannya sebelum manajer tingkat atas mengangap masalah tersebut tidak
terkendali.
Lima langkah untuk pencapaian pengembangan tersebut :
1. Menyimpan inventarisasi dari transakasi informasi yang masuk, yaitu
memelihara record data dan menyimpan ke database, dan dapat dibuat laporan. Studi
Jones dan McLeod mengemukakan bahwa eksekutif biasanya menganggap sumber dan
media tertentu dapat memberikan kontribusi yang lebih banyak dari apa
sebenarnya ia berikan. Dengan bukti sam , sumber dan media yang lain mungkin ia
remehkan. Eksekutif. Dibantu oleh sekretarisnya. Dapat memelihara catatan data
yang sama seperti yang ada pada studi jones dan McLeod. Data yang dicatat
tersebut dimasukan kedalam DBMS. Kemudian meraka dapat membuat laporan yang
dapat digunakan untuk mejawab tujuh pertanyaan yang dikemukakan oleh jones dan
McLeod bila meraka berhubungan dengan system yang dimilikinya
2. Merangsang terjadinya sumber yang bernilai tinggi. Dengan adanya sumber
yang bernilai tinggi maka eksekutif mengkomunikasikan sumber tersebut ke setiap
anggota dengan melakukan konferensi. eksekutif kemudian dapat melakukan cara
yang lebih mudah untuk mengkomunikasikan sumber tersebut. CEO bank memberikan
contoh yang baik mengenai cara melakukan hal ini. Mungkin sebagian besar
informasi yang bernilai tinggi yang ia terima berasal dari komite manajemennya.
Agar setiap anggota merasa mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi,
CEO memutuskan untuk menggunakan meja bundar untuk melakukan konferensi.
3. Mengambil manfaat dari peluang yang ada, ketika informasi datang, eksekutif
harus dapat memperolehnya. Ketika secuil informasi datang, eksekutif harus
menangkapnya. Wakil direktur bidang keuang menjalankan strategi ini dengan
menempatkan meja kerjanya menghadap tembok, sehingga ia membelakangi pintu
masuk. Nampaknya hal ini seperti untuk menghindari informasi, padahal
sebenarnya maksudnya kebalikannya. Seperti yang ia jelaskan, ketika seseorang
memasuki kantornya, ia tidak ingin melakukan percakapan dengan tamu tersebut
sambil melihat tumpukan kertas kerja yang belum selesai dikerjakan. Dengan
penempatan mejanya menghadap tembok. Ia dapat menghadapi tamunya dengan
konsentrasi penuh tanpa gangguan kertas kerja yang belum ia selesaikan.
4. Menyesuaikan sistem dengan kebutuhan perorangan, eksekutif menggunakan gaya
atau cara pengumpulan informasi yang berbeda. Dalam studi jones dan Mcleod,
datanya menunjukan bahwa tiap eksekutif mempunyai gaya atau cara pengumpulan
informasi yang berbeda-beda. Apa yang terbaik bagi eksekutif adalah bila ia
tidak berkerja untuk orang lain. CEO dari perusahaan pengecer mengerjakan apa
yg menjadi perkejaannya sendiri.
5. Memanfaatkan teknologi, memanfaatkan staf pelayan informasi untuk
mengembangkan sistem dalam perusahaan itu sendiri. Minat terhadapat EIS telah
meningkat mulai akhir tahun 1980-an. Banyak perusahaan besar yang telah
mempekerjakan staf pelayanan informasi untuk mengembangkan system dalam
perusahaan itu sendiri. Sekarang ini ada lebih dari 30 perusahaan yang memasuk
dan menawarkan software EIS, hardware, dan pelayanan konsultasi. Kita akan
mengakhiri pembahasan kita kali ini dengan menampilkan pilihan dan beberapa
dasar untuk melakukan implementasi yang baik.
Beberapa alasan mengapa EIS yang dibutuhkan untuk mengatasi berbagai macam kebutuhan
akan informasi yang up to date, yaitu :
a. Eksternal
Ø meningkatan kompetisi
Ø Lingkungan yang dengan cepat berubah
Ø Keharusan untuk selalu proaktif
Ø Kebutuhan untuk mengakses external database
b. Internal
Ø Kebutuhan akan informasi yang up to date
Ø Kebutuhan akan komunikasi
Ø Kebutuhan akan informasi yang lebih akurat
Ø Kebutuhan untuk meningkatkan keefektifan
Tujuan dari Executive Information
Sistem adalah menghasilkan target informasi yang selalu up to
date untuk meningkatkan performance dari suatu perusahaan dengan
memberikan perhatian khusus pada tujuan akhir dan prioritasdari perusahaan
tersebut.
Semua sistem memliki kekurangan dan
kelebihan. Akan tetapi, itu semua tergantung dari penggunaan dan pengguna. SIE
pun juga memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri.
Berikut Kelebihan Sistem Informasi Eksekutif (SIE) tersebut:
a.
Mempermudah para eksekutif untuk
menggunakan pengalamannya dalam dunia komputer.
b.
Menyediakan pengiriman tepat waktu dari
keterangan rangkuman perusahaan.
c.
Keterangan yang disediakan semakin mudah
dimengerti.
d.
Biasanya menawarkan efisiensi untuk
membuat keputusan.
e.
Melakukan penyaringan data untuk
manajemen.
f.
Meningkatkan pemeriksaan keterangan.
g.
Dapat Mengakses dan memadukan jangkauan
data internal dan eksternal yang bersifat luas.
Sedangkan Kekurangan Sistem Informasi Eksekutif (SIE), yaitu:
a.
Memiliki fungsi yang terbatas, tidak
dapat melakukan perhitungan kompleks.
b.
Pada perusahaan kecil mungkin
membutuhkan biaya lebih untuk membuat implementasi.
c.
Karena sistemnya besar, sehingga sulit
untuk mengaturnya.
d.
senior.
e.
Eksekutif mungkin menghadapi beban
terlalu berat untuk membuat keterangannya.
Di Indonesia sudah banyak perusahaan yang
telah menggunakan Sistem Informasi Eksekutif, contohnya yaitu Bank
Mandiri
Bank Mandiri yang didirikan pada tanggal
2 Oktober 1998 merupakan bagian dari program restrukturisasi perbankan yang
dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Empat bank milik pemerintah yang
bergabung menjadi bank Mandiri tersebut adalah Bank Bumi Daya, Bank Dagang
Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia.
Dari penyatuan empat bank pemerintah
yang memiliki core banking system yang berbeda-beda, data center yang
berbeda-beda, serta infrastruktur baik hardware, software maupun jaringan yang
berbeda-beda maka pada awal bank Mandiri \ melakukan evaluasi atas core banking
sistem dari keempat bank legacy. Dan pada akhirnya bank Mandiri memutuskan
untuk mengembangkan SIE nya dengan cara memodifikasi sistem core banking Bank
Exim (BEST) untuk memenuhi kebutuhan standar produk awal bank Mandiri yang
kemudian disebut dengan MASTER (Mandiri Sistem Terpadu).
Berdasar hasil evaluasi atas core
banking sistem dari keempat bank legacy tersebut sistem core banking Bank
Eximlah yang dianggap terbaik dari keempat sistem yang ada pada keempat legacy
bank dan yang paling memungkinkan untuk direkomendasikan sebagai standar sistem
paling memungkinkan untuk diimplementasikan sesuai dengan time frame legal
merger.
Sistem core banking bank Exim telah
diimplementasikan pada lebih dari 200 cabang, dan terdapat 40 karyawan bank
Exim memahami sistem tersebut dengan baik.
MASTER hanya sebuah solusi sementara
jangka pendek untuk dapat secepatnya beroperasi dalam satu platform. MASTER
tidak dapat mendukung kebutuhan bisnis dan visi bank Mandiri untuk masa
mendatang karena MASTER dibuat pada pertengahan tahun 1980an untuk keperluan
bank dengan segmen korporasi, sedangkan bank Mandiri menyasar pada segmen yang
berbeda denga bank Exim yaitu segmen ritel.
Selain itu, arsitektur sistem MASTER
dikembangkan dengan konsep branch- centric yang tidak dapat mendukung konsep
hub and spoke. Disamping itu database yang dimiliki oleh MASTER ini cukup terbatas
dan tidak dapat memenuhi kebutuhan customer view dan segmentasi nasabah yang
diperlukan.
Selanjutnya dilakukan benchmarking
aplikasi MASTER yang dilakukan di IBM Center Rochester dan diketahui bahwa
MASTER tidak dapat memenuhi kebutuhan bank Mandiri. Dari sini, pihak manajemen
bank Mandiri sepakat untuk mengganti core banking sistemnya dengan sistem off-
the-shelf from the market yang dapat mendukung bisnis dan visi bank Mandiri,
dan tidak mendesain ulang sistem MASTER.
Setelah itu dilakukan penggantian sistem
MASTER ke system eMAS (Enterprise Mandiri Advanced System) yang project
pilotnya dilakukan dalam dua tahap. Sistem eMAS dijalankan senilai US$ 173 juta
selama 3 tahun yang mencakup empat inisiatif utama yaitu:
1. Memperkaya dan memperbarui delivery channel.
2. Membangun sistem core banking baru yang terintegrasi.
3. Membangun MIS didukung teknologi Data Warehouse terkini.
4. Memperkuat dan memperbarui sistem infrastruktur yang reliable.
Didukung oleh anggota tim sebanyak 500
orang, 32 proyek, 18 sistem interfaces dan 128 sub modul. Pada bank Mandiri,
ada beberapa hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan data, yaitu:
1.
Timeless: data harus tersedia pada
watunya untuk mengantisipasi perubahan bisnis yang cepat.
2.
Usability: data harus sesuai dengan
kebutuhan user.
3.
Completeness: data yang lengkap akan
dapat memberikan gambaran bisnis yang lebih baik, sehingga pada saat pemasukan
data (data entry), field-field penting telah dibuat mandatory dan default
value.
4.
Correctness: ketepatan data untuk
digunakannya parameter table untuk meminimalisir kesalahan pengetikan (typing
error).
5.
Precision: memastikan bahwa data tetap
lengkap dan sesuai (tidak ada data yang hilang atau berubah).
6.
Lack of abiguity: kesamaan persepsi atas
data diperlukan untuk menghindari misinterpretasi.
Untuk mendukung penyediaan data dan
informasi yang lengkap, akurat, tepat waktu dan konsisten maka dibentuk
Enterprise Information Architecture yang bersifat "agile &
adaptive" dan comply dengan Basel II.
Saat ini, sebagian besar proses
pelaporan telah berjalan secara otomatis, meskiterdapat beberapa yang masih
diperlukan adanya intervensi atau pengontrolan dari unit terkait dalam hal ini
eksekutif untuk dilakukan adjustment sesuai keputusan manajemen, maupun adanya
temuan audit internal dan eksternal.
Walaupun demikian, diakui pihak IT bank
Mandiri, bahwa masih terasa terdapat kekurang optimalan waktu pemrosesan
pembentukan data menjadi informasi, serta kurangnya pemahaman terhadap
kebutuhan laporan dan data yang tersedia. Untuk itu diperlukan upaya performance
tuning pada database maupun program, termasuk simplifikasi laporan dan
reengineering proses pembentukan laporan.
Pihak bank Mandiri telah melakukan
pengantisipasian external shocks dengan menggunakan Business Intelligence (BI).
Saat ini analisiss Business Intelligence sudah digunakan oleh unit bisnis untuk
pengambilan berbagai keputusan strategis, meskipun sementara ini penggunaannya
masih dalam tahap sales dan marketing product.
Tetapi, untuk lebih mengoptimalkan
penggunaannya perlu disusun datamart (subset dari Data warehouse yang berisi
data yang lebih spesifik yang bersifat departemental) yang lebih komprehensif
dan peningkatan pemahaman, baik oleh IT maupun user, yaitu pihak manajemen
puncak yang tetkait untuk menghindari adanya kesalahan interpretasi (mis-
interpretation).
Semua sistem Informasi Eksekutif PT.
Bank Mandiri dikembangkan oleh Berca Tim, dengan teknologi yang digunakan
adalah :
Ø DB Server: Oracle DB 10g R2 di SunOS
Ø IBM DataStage sebagai Engine ETL
Ø OLAP CUBE (MOLAB): Essbase Oracle
Ø Front End: SAP Excelsius BO dan SAP BO Webi
BAB III
Sistem
Informasi Eksekutif (EIS) memiliki peranan yang sangat penting dalam
perkembangan sistem informasi dewasa ini. Sistem Informasi Eksekutif
(EIS) merupakan sistem terkomputerisasi yang memberi eksekutif
akses yang mudah ke informasi internal dan eksternal yang relevan dengan faktor
keberhasilan kebutuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
http://arhami.files.wordpress.com/2011/08/sistem-informasi-eksekutif.pdf
http://giriayoga.com/2011/10/20/perkembangan-sistem-informasi-eksekutif-dan-penerapannya-
di-indonesia/
http://www.scribd.com/doc/52824394/Bab13-Sistem-Informasi-Eksekutif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar